August 12, 2005

Mengatasi Penyakit Dalih

Filed under: Lain-lain - hericz @ 11:35 am

Sembilan puluh sembilan persen kegagalan datang dari orang yang punya
kebiasaan suka membuat alasan, begitu kata George Washington Carver.
Daripada mencari jalan keluar, mereka memilih untuk membuat 1001 dalih
mengenai kegagalan mereka. Alhasil, kesempatan belajar pun terlewatkan
begitu saja.

Dalam buku The Magic of Thinking Big, David J. Schwartz menjelaskan
mengenai penyakit pikiran yang mematikan alias penyakit dalih
(excuisitis). Orang-orang gagal senantiasa berdalih mengenai kegagalan
mereka. Penyakit dalih tersebut biasanya muncul 4 bentuk,
yaitu: dalih kesehatan, dalih inteligensi, dalih usia dan dalih nasib.

Dalih kesehatan biasanya ditandai dengan ucapan, “Kondisi fisik saya
tidak sempurna”, “Saya tidak enak badan”, “Jantung saya lemah”, dan
sejenisnya. Orang sukses tidak pernah menganggap cacatnya itu sebagai
hambatan. Saya punya sahabat dekat yang menderita polio namun dikenal
sebagai dokter spesialis ginjal sukses dan murah hati. Sejumlah besar
tokoh-tokoh dunia bahkan punya cacat fisik. Presiden Amerika ke-32
Franklin Delano Roosevelt menderita polio, Shakespeare lumpuh, Beethoven
tuli, Napoleon Bonaparte memiliki postur tubuh yang sangat pendek.

Dalih inteligensi diitandai dengan ucapan, “Saya kan tidak pintar”,
“Saya kan bukan rangking teratas”, “Dia lebih pandai”, dan sejenisnya.
Inilah dalih yang paling umum ditemukan. Tanpa bermaksud mengecilkan
arti sekolah, saya ingin mengatakan kepa Anda bahwa tidak perlu jadi
profesor agar Anda bisa sukses. Selanjutnya, dalih usia yang ditandai
dengan ucapan, “Saya terlalu tua”, “Saya masih terlalu muda”, “Biarkan
yang lebih tua yang duluan”, dan sejenisnya. Padahal tidak ada batasan
usia dalam meraih sukses. Kolonel Sanders memulai usahanya di usia 65
tahun. Berikutnya adalah dalih nasib, misalnya dengan mengatakan ,
“Aduh, nasib saya memang selalu jelek”, “Itu sudah nasibku”, “Itu memang
takdir” Memang amat mudah untuk selalu menyalahkan nasib. Padahal nasib
kita ditentukan oleh kita sendiri. Tuhan telah memberikan hidup dengan
sejumlah pilihan.

Baru-baru ini, hati saya tertegun ketika menyaksikan siaran televisi
tentang seorang anak kecil yang ahli memainkan drum dalam kebaktian
rutin setiap minggunya pada sebuah gereja di Thailand. Titi, nama bocah
yang baru berusia 3 tahun itu memang layak dijuluki “drummer cilik”.
Bertubuh mungil dengan 2 jari yang tidak sempurna, Titi yang masih suka
nge-dot ini menunjukkan kebolehannya menabuh drum. Tak berlebihan jika
banyak yang menyarankan agar ia dimasukkan dalam Guiness Book of Record.

Prestasi yang diraih Titi sungguh menggugah kesadaran saya. Lihatlah
betapa banyaknya orang yang memilih berdiam diri daripada melakukan apa
yang bisa mereka perbuat. Padahal apapun yang layak diraih layak
diupayakan dengan seluruh kemampuan yang kita miliki. Sayangnya, potensi
diri ini kerap hanya terkubur karena kebiasan kita membuat dalih jika
apa yang kita kerjakan tidak berjalan sesuai harapan kita atau hasilnya
tidak segera kelihatan. Gaya hidup modern yang serba instant secara
tidak langsung membuat kita sering mengharapkan hasil yang instant pula.
Kita kepengen sekali makan durian tanpa mau menanam, menyiram, memupuki
dan merawat pohonnya.

Saya sendiri sempat terkejut membaca cerita tentang ilmuwan besar
seperti Albert Einstein yang pernah diusir dari sekolah karena dianggap
lamban. Ia bahkan mendapat nilai buruk dalam pelajaran bahasa Yunani
karena ingatannya yang lemah. “Tak peduli apa pun yang kamu lakukan,
kamu takkan dapat melakukan apa-apa,” kata gurunya. Guru lainnya
menimpali, “Kamu Cuma merusak kelas saya!”. Bahkan kepala sekolahnya
mengatakan kalau Einstein tidak akan sukses dalam apa pun yang
dikerjakannya.

Saya juga teringat kepada Thomas Alfa Edison yang hanya bersekolah
beberapa bulan namun tercatat sebagai pencipta terbesar sepanjang jaman
dengan lebih dari 1.000 hak paten. “Saya mempunyai banyak ide tapi hanya
sedikit waktu,” ujarnya. Edison gagal di sekolah. Gurunya merasa Edison
tidak punya minat belajar, pemimpi dan mudah sekali terpecah
konsentrasinya. Yang sungguh membuat saya terharu adalah sikap Ibu
Edison terhadap putranya. Ia terus mengajari Edison di rumah dan setiap
kali Edison gagal, ibunya memberi harapan dan mendorongnya untuk terus
berusaha.

Kalau orang gagal senantiasa berkata “itu tidak mungkin berhasil” maka
orang sukses lebih suka berkata “mengapa tidak mencobanya dulu?”.
Daripada membuat alasan, orang sukses memilih untuk mencari cara
mewujudkan impian mereka. Daripada berdiam diri dan menunggu datangnya
kesempatan, mereka memilih pergi keluar dan menemukan kesempatan itu.
Bahkan mereka mampu menciptakan kesempatan dalam kesempitan. E.M. Gray
menegaskan, orang-orang sukses mempunyai kebiasaan melakukan hal-hal
yang tidak suka dilakukan orang gagal. Jika saat ini Anda masih suka
membuat dalih, buatlah komitmen untuk mengubah kebiasaan itu. Jangan
biarkan potensi diri Anda dibelenggu oleh dalih-dalih Anda. Ingat selalu
nasihat Theodore Roosevelt, “Lakukan apa yang Anda bisa, dengan apa yang
Anda miliki, di mana pun Anda berada.”

Sebagai akhir, ijinkanlah saya membagikan kepada Anda sebuah syair dari
Afrika berjudul Perlombaan Saat Matahari Terbit. Setiap pagi di Afrika,
seekor rusa bangun. Ia tahu bahwa ia harus berlari lebih cepat daripada
singat tercepat. Jika tidak, ia akan terbunuh. Setiap pagi seekor singa
bangun, ia tahu bahwa ia harus berlari lebih cepat daripada rusa
terlamban. Jika tidak, ia akan mati kelaparan. Tidak penting apakah Anda
adalah sang rusa atau sang singa. Saat matahari terbit, Anda sebaiknya
mulai berlari. ***

Sumber: Mengatasi Penyakit Dalih oleh Paulus Winarto. Paulus Winarto
adalah pemegang dua Rekor Indonesia dari MURI (Museum Rekor Indonesia),
yakni sebagai pembicara seminar pertama yang berbicara dalam seminar di
angkasa dan penulis buku yang pertama kali bukunya diluncurkan di
angkasa.


dari milis eramuslim, kiriman Panggah Setiawan

Comments »

URI untuk entri trackback artikel ini ada disini.

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Tulis Komentar


Get free blog up and running in minutes with Blogsome | Theme designs available here